IDENTIFIKASI ARSITEKTUR RUMAH TINGGALTRADISIONAL TIONGHOA DI LASEM

Djoko Darmawan

Sari


Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yg tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Bersosialisasi dengan lingkungan merupakan pendidikan dasar dalam berinteraksi sosial. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Budaya Jawa adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh masyarakat Jawa dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Arsitektur merupakan hasil budaya manusia “man made” yang berwujud fisik, didalamnya terdapat ilmu pengetahuan, teknologi dan profesi
Pada desain arsitektur tradisional Tionghoa banyak aturan-aturan berupa larangan maupun anjuran dalam merancang suatu bangunan. Aturan-aturan ini merupakan pola pikir mereka terhadap hubungan manusia dan alam yang tersirat pada filsafat mereka. Karena kuatnya ajaran hidup itu, arsitektur tradisional Tionghoa tetap tidak begitu terpengaruh oleh budaya lain..
Penggunaan elemen kayu mendominasi hampir seluruh desain arsitektur tradisional Tionghoa, baik itu istana, kuil/vihara hingga rumah tinggal warga biasa karena kayu sejak dahulu digunakan dalam upacara-upacara untuk berkomunikasi antara surga dan dunia (Fletcher Sir, Banister, Knt,1954).
Permasalahan utama adalah bagaimana menarik benang merah antara budaya jawa pada arsitektur rumah tinggal tradisional Tionghoa di Lasem. Apakah ada keterkaitan budaya jawa dengan perancangan arsitektur pada rumah tinggal tradisional tionghoa di Lasem dan apakah kegiatan-kegiatan tradisi berupa ritual budaya maupun ritual ibadah berpengaruh juga pada arsitektur tradisional Tionghoa, sirkulasi pada bangunan dan perletakan zona sakral.
Pada penelitian ini upaya pengungkapan dan penelusuran hubungan arsitektur rumah tinggal tradisional Tionghoa dan budaya Jawa di Pecinan Lasem digunakan paradigma
penelitian kualitatif sehingga keluasan cakupan masalah dapat dipahami. Pada penelitian
ini digunakan analisis Holistik yaitu obyek dipandang di dalam suatu kerangka kebudayaan, yang memandang obyek/bangunan arsitektur tradisional Tionghoa sebagai manifestasi dari sistem budaya. Pada penelitian ini meliputi ketiga sudut pandang mengenai filsafat yaitu filsafat sebagai ilmu, filsafat sebagai cara berpikir dan filsafat sebagai pandangan hidup kaitannya dengan perancangan arsitektur rumah tradisional tionghoa dan simbolisasi yang ada pada masyarakat tionghoa.
Dengan pendekatan di atas, hubungan konsep arsitektur tradisional Tionghoa dan budaya
Jawa dapat dideskripsikan, meskipun pada paras hipotetis. Dari analisis terungkap pula
bahwa pengertian dan pemahaman simbolisasi ternyata dapat diadaptasikan secara integratif dengan teori perancangan arsitektur. Penelitian yang dilakukan terhadap arsitektur tradisional Tionghoa dan simbolisasinya diharapkan dapat memberi manfaat bagi pemahaman suatu perancangan arsitektur tradisional tionghoa dan menjadi stimulan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

Teks Lengkap:

PDF

Article Metrics

Sari view : 436 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.